Rabu, 14 Agustus 2013

Guguran Daun Kering


Jibril bertugas dengan baik
Tiupkan rasa purba menusuk ubun-ubunku
Dan kisah klasik dimulai
Terbang, kemudian mengerang keluh

Tapi aku lepas, bebas terhempas
Seperti pantai, seperti karang
Jubahkan apa mauku dan apa adanya
Kemana saja tinggal kepakan

Hei! Mengapa harus berkelimis dan mengenakan seragam?
Seperti si manusia yang berangkat pagi dan pulang senja itu
Manusia retorika dengan masa depan cerah-kah?
Setidaknya, tak ada adiksi bagi hidupku

Aku membual semauku dan mencoret ketidaksempurnaan
Aku melukis, menulis, memahat
Sambil bernyanyi, bersiul, bersua
Tidur seperti kucing dan berlari bak kijang

Hujan basahiku
Air hanyutkanku
Angin membawaku pergi
Seperti, guguran daun kering

oleh : jalu Lalana~

RUBAH RUPANYA~


Dan aku pun menuruni tangga-tangga kecil
yang terbentuk dari tanah
di sana, ada genangan air
aku bercermin padanya

Dan tenggorokanku pun kering
aku teguk satu, dua telapak tangan
di sana, pada genangan air
aku lepas dahaga

Ternyata, aku kira aku adalah kijang
karena aku pernah berlari kencang bersama mereka
Ternyata, aku kira aku adalah macan
karena aku pernah berburu makan bersama kelompoknya

Genangan air menjawabnya
Menyumpal mulut besar
Ternyata aku adalah rubah
Hanya seekor rubah rupanya

SELAMAT JALAN LUKA ~

Sayat yang menjadi puisi dan sajak
Luka yang membacok tulang
Serupa aksara, serupa abjad
Pada nisan, penanda pulang

Kala tandai semuanya pada lininya, pada catatannya
Itu pesanNya, tentu !
Tentang luka, tentang duka
Tentang aku dan tentang engkau

Engkau, yang menginginkannya tiada
Berharap bukan aku
Yang menyulam mimpi bekas
Berharap menjadi utuh

Saat pulang menjadi luka
Menjadi celoteh untuk senja yang kian duka
Kini ambang pintu begitu jauh
Terpaksa menyeretnya bersama peluh

Ini senja terakhir
Esok adalah mimpi terang
Nanti, pada ambang pintu aku katakan
Selamat jalan, Luka~